Kamis, 20 Maret 2025

Mata Kuliah              : Pembinaan dan Pengajaran Bahasa Indonesia

Dosen                          : Lisa Septia Dewi Br.Ginting S.Pd.,M.Pd.

Nama                          : Indah Syapriani

NIM                            : 221214028

Kelas                           : PBSI 6A


KEADAAN BAHASA INDONESIA PADA SAAT INI

INDONESIA MASIH PERLU PEMBIASAAN BAHASA INDONESIA YANG BAIK DAN BENAR



Apakah Kamu Sebagai Orang Indonesia Bangga Akan Bahasanya Sendiri?

Bahasa Indonesia, sejak diikrarkan sebagai bahasa persatuan dalam Sumpah Pemuda 1928, memiliki peran vital sebagai simbol identitas dan pemersatu bangsa yang multikultural dan multilingual. Berdasarkan data dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (2011), Indonesia memiliki lebih dari 700 bahasa daerah, menjadikannya negara dengan jumlah bahasa daerah terbanyak kedua di dunia setelah Papua Nugini. Fakta ini memperlihatkan betapa besar tantangan untuk mempertahankan kesatuan nasional, di mana bahasa Indonesia menjadi alat utama pemersatu antar suku dan budaya. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar masih jauh dari harapan. Ironisnya, di tengah upaya globalisasi yang mengedepankan komunikasi lintas budaya, banyak masyarakat Indonesia justru lebih nyaman menggunakan bahasa asing atau mencampur-adukkan bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari, termasuk dalam ranah formal seperti seminar, media massa, dan dunia akademik. Fenomena ini dikenal sebagai "bahasa campur" atau "code-mixing" yang kini menjadi bagian dari tren berbahasa anak muda di Indonesia.

Sebagai contoh konkret, The Wall Street Journal mencatat bahwa hingga Juni 2014, terdapat sekitar 69 juta pengguna aktif Facebook di Indonesia (Prihadi, 2015), yang mayoritasnya adalah generasi muda. Media sosial menjadi ruang utama pertukaran komunikasi, namun sayangnya juga menjadi ladang subur bagi berkembangnya bahasa tidak baku. Ungkapan seperti "guys", "htm", "open recruitment", dan "achievment" kerap ditemukan dalam pamflet-pamflet resmi organisasi mahasiswa yang seharusnya menjadi role model penerapan bahasa Indonesia yang benar di lingkungan akademik. Fenomena ini tidak sekadar persoalan linguistik, tetapi juga menyentuh aspek psikologis dan sosial masyarakat Indonesia. Ketidakbanggaan terhadap bahasa sendiri seolah menjadi cermin dari rendahnya rasa nasionalisme di era global. Masih banyak masyarakat yang merasa bangga ketika fasih berbahasa Inggris, namun ironisnya tidak mampu menggunakan bahasa Indonesia sesuai kaidah baku. Padahal, pepatah lama telah mengingatkan, "Bahasa menunjukkan bangsa". Ketika bahasa Indonesia mulai kehilangan tempatnya di hati masyarakat, maka identitas bangsa pun secara perlahan mulai terkikis.

Muin (2008) menegaskan bahwa pembinaan bahasa Indonesia yang baik dan benar harus dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga. Pembiasaan penggunaan bahasa Indonesia yang baku dalam kehidupan sehari-hari di rumah dapat mempercepat perkembangan kemampuan berbahasa anak-anak. Hal ini sejalan dengan teori pemerolehan bahasa yang menyebutkan bahwa keluarga adalah lingkungan pertama dan paling berpengaruh dalam membentuk pola berbahasa seseorang. Lebih jauh, Yuniawan (2011) juga menekankan bahwa pembinaan bahasa tidak cukup hanya dilakukan melalui pendidikan formal di sekolah, tetapi harus diiringi dengan pembiasaan dalam kehidupan masyarakat dan keluarga. Oleh sebab itu, pendidikan formal perlu berkolaborasi dengan media sosial, organisasi masyarakat, dan lembaga pemerintah dalam menciptakan ekosistem yang mendorong penggunaan bahasa Indonesia secara baik dan benar. Jika kita berkaca pada negara lain, banyak negara yang justru sangat ketat dalam menjaga penggunaan bahasa nasionalnya. Misalnya, Prancis memiliki undang-undang "Toubon Law" yang mewajibkan penggunaan bahasa Prancis di ruang-ruang publik, periklanan, serta media massa. Korea Selatan dan Jepang pun sangat menekankan pelestarian bahasa nasional mereka, yang turut memperkuat identitas budaya bangsa.

Namun di Indonesia, fenomena "inferiority complex" terhadap budaya dan bahasa sendiri masih mengakar kuat. Mengagungkan budaya dan bahasa asing seolah menjadi simbol status sosial dan kecerdasan, padahal sebaliknya, kurangnya penguasaan bahasa Indonesia yang baik mencerminkan krisis literasi dan kebanggaan budaya. Tantangan lain muncul dari penetrasi budaya populer Barat yang sangat kuat di kalangan anak muda. Serial televisi, film, musik, hingga iklan yang diproduksi dengan dominasi bahasa Inggris turut mempengaruhi gaya berbahasa sehari-hari masyarakat Indonesia, terutama di kota-kota besar. Akibatnya, tidak jarang ditemui generasi muda yang merasa canggung atau bahkan malu ketika harus berbicara dengan bahasa Indonesia baku di ruang publik.

Sebagai solusi strategis, pemerintah perlu melakukan revitalisasi kebijakan bahasa nasional. Salah satu langkah yang dapat diambil adalah dengan membuat regulasi tegas terkait penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik dan media. Selain itu, perlu adanya gerakan nasional yang melibatkan tokoh masyarakat, selebritas, dan influencer untuk mempopulerkan kembali penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar di kalangan masyarakat, terutama anak muda. Kampanye seperti #BanggaBerbahasaIndonesia atau #IndonesiaTanpaBahasaCampur dapat menjadi langkah awal untuk membangkitkan kembali kecintaan masyarakat terhadap bahasa Indonesia. Langkah penting lainnya adalah memperluas penyuluhan di lingkungan akademik dan masyarakat umum. Mahasiswa sebagai agen perubahan diharapkan dapat menjadi motor penggerak untuk menyebarluaskan kesadaran pentingnya penggunaan bahasa Indonesia sesuai kaidah. Dengan membiasakan menulis karya ilmiah yang sesuai EYD (Ejaan yang Disempurnakan), membuat pamflet atau poster yang bebas dari "bahasa campur", serta aktif mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga identitas bangsa melalui bahasa.

Tak hanya itu, munculnya wacana penerapan Tes Kemahiran Berbahasa Indonesia (TKBI) untuk warga asing yang akan tinggal di Indonesia adalah langkah yang patut diapresiasi. Namun, lebih penting lagi adalah bagaimana warga negara Indonesia sendiri memiliki kemampuan yang memadai dalam menggunakan bahasa nasionalnya. Sebab, tanpa adanya kesadaran internal dari masyarakat, regulasi maupun tes kemahiran tidak akan membawa perubahan signifikan. Terakhir, kita tidak boleh lupa bahwa perkembangan bahasa Indonesia di kancah internasional terus menunjukkan tren positif. Hingga saat ini, bahasa Indonesia sudah diajarkan di lebih dari 45 negara, termasuk Australia, Jepang, Amerika Serikat, Inggris, Belanda, Tiongkok, dan Korea Selatan (Badan Bahasa, 2023). Fakta ini menunjukkan bahwa dunia internasional mulai mengakui pentingnya bahasa Indonesia sebagai salah satu bahasa global.

Namun, tantangan terbesar tetap berada di dalam negeri. Akankah kita membiarkan bahasa Indonesia perlahan memudar hanya karena gengsi globalisasi? Ataukah kita akan bangkit bersama-sama memulihkan marwah bahasa Indonesia sebagai lambang persatuan dan kebanggaan bangsa?

Sebagai generasi penerus, pilihan ada di tangan kita.


Mata Kuliah              : Pembinaan dan Pengajaran Bahasa Indonesia

Dosen                          : Lisa Septia Dewi Br.Ginting S.Pd.,M.Pd.

Nama                          : Indah Syapriani

NIM                            : 221214028

Kelas                           : PBSI 6A


PENGEMBANGAN BAHASA INDONESIA DI MEDIA MASSA



Apakah kita masih menganggap penting penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar di era media sosial yang serba cepat dan instan ini? Ketika kata-kata disingkat, simbol menggantikan huruf, dan norma berbahasa dilupakan, apakah kita sedang membangun identitas baru atau justru perlahan mengikis budaya kita sendiri?

Globalisasi yang berkembang pesat membawa dampak yang signifikan dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk dalam bidang kebahasaan. Bahasa Indonesia, sebagai bahasa persatuan sekaligus identitas bangsa, kini menghadapi tantangan besar di tengah arus modernisasi dan kemajuan teknologi. Media massa sebagai sarana komunikasi yang paling masif, memegang peran penting dalam mempengaruhi pola berbahasa masyarakat. Namun ironisnya, media massa kerap kali justru menjadi agen yang mempercepat pergeseran penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar menuju bahasa yang serampangan, seperti bahasa gaul dan bahasa alay. Bahasa alay yang saat ini banyak digunakan di kalangan masyarakat, khususnya generasi muda, muncul sebagai hasil dari kreativitas dalam berbahasa yang tidak lagi memedulikan kaidah-kaidah baku. Fenomena ini tampak jelas dalam penggunaan bahasa tulis di media sosial seperti Instagram, Twitter, hingga platform perpesanan seperti WhatsApp. Penggabungan huruf dan angka, penggunaan simbol-simbol yang menggantikan huruf, serta penyingkatan kata-kata di luar kaidah merupakan ciri khas dari bahasa alay tersebut. Fenomena ini menunjukkan adanya degradasi kesadaran masyarakat dalam menjaga kemurnian bahasa Indonesia yang seharusnya menjadi alat pemersatu dan identitas bangsa.

Penggunaan bahasa yang menyimpang dari aturan baku ini tidak hanya terjadi di ranah media sosial, tetapi juga mulai merambah media elektronik seperti televisi dan radio. Terutama dalam program hiburan dan siaran langsung, penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar kerap diabaikan. Tidak adanya proses penyuntingan langsung dalam siaran tersebut menyebabkan banyak pelanggaran kaidah bahasa yang akhirnya dikonsumsi oleh masyarakat tanpa filter kritis. Hal ini berbeda dengan media cetak seperti koran atau majalah yang masih menerapkan proses editing oleh redaktur bahasa, sehingga bahasa yang digunakan relatif lebih sesuai dengan kaidah yang berlaku. Media massa memiliki pengaruh yang sangat besar dalam membentuk kebiasaan berbahasa masyarakat. Ketika media massa, khususnya media sosial, dipenuhi oleh konten-konten yang menggunakan bahasa Indonesia secara tidak baku, maka lambat laun hal ini akan mempengaruhi cara berbahasa para penggunanya. Generasi muda, sebagai pengguna media sosial terbanyak, menjadi pihak yang paling terdampak. Mereka mulai menganggap bahwa menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar terkesan kuno, kaku, dan tidak relevan dengan kehidupan modern. Sebaliknya, penggunaan bahasa gaul atau bahasa alay dianggap lebih santai, akrab, dan kekinian.

Padahal, tanpa disadari, kebiasaan ini sangat merugikan bagi perkembangan bahasa Indonesia. Jika dibiarkan terus-menerus, maka dikhawatirkan bahasa Indonesia akan mengalami penurunan kualitas yang berujung pada pudarnya identitas kebahasaan bangsa. Lebih jauh lagi, kesalahpahaman dan miskomunikasi juga sangat rentan terjadi akibat penggunaan bahasa yang tidak sesuai kaidah. Misalnya, dalam dunia pendidikan dan pekerjaan, penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar menjadi syarat utama dalam penulisan dokumen resmi, penyusunan laporan, hingga komunikasi formal. Dalam konteks inilah, media massa seharusnya menjadi garda terdepan dalam menjaga dan mengembangkan bahasa Indonesia yang sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Media massa, baik cetak maupun elektronik, harus menjadi contoh dalam membiasakan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar kepada masyarakat luas. Sebagai contoh, media cetak seperti koran dan majalah yang tetap menggunakan bahasa baku secara konsisten terbukti dapat menanamkan kesadaran berbahasa yang lebih baik bagi pembacanya. Begitu pula dengan program-program di televisi dan radio yang menyajikan konten edukatif dengan bahasa Indonesia yang sesuai kaidah, secara tidak langsung akan membentuk sikap positif masyarakat terhadap bahasa Indonesia.

Selain media massa, dunia pendidikan juga memegang peran yang sangat penting dalam membina kebiasaan berbahasa Indonesia yang baik dan benar di kalangan pelajar dan mahasiswa. Pemerintah dan institusi pendidikan perlu menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan kebahasaan secara lebih intensif kepada generasi muda. Upaya ini dapat dilakukan melalui penguatan kurikulum yang menekankan pentingnya penguasaan bahasa Indonesia sesuai kaidah, serta pemberian contoh nyata dalam penggunaan bahasa yang baik dan benar dalam proses belajar-mengajar. Bahasa Indonesia bukan hanya alat komunikasi semata, tetapi juga lambang identitas dan pemersatu bangsa. Oleh karena itu, upaya menjaga dan mengembangkan bahasa Indonesia merupakan tanggung jawab bersama, baik pemerintah, media massa, institusi pendidikan, maupun seluruh lapisan masyarakat. Menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar bukanlah hal yang ketinggalan zaman, melainkan bentuk penghormatan terhadap budaya dan jati diri bangsa.

Jika fenomena penggunaan bahasa alay dan gaul terus dibiarkan tanpa ada pembinaan yang kuat, dikhawatirkan generasi masa depan akan semakin jauh dari pemahaman terhadap bahasa Indonesia yang baku dan sesuai aturan. Akibatnya, bukan hanya kemampuan berbahasa yang menurun, tetapi juga potensi lunturnya identitas nasional. Oleh sebab itu, mari jadikan media massa sebagai sarana yang efektif untuk membumikan kembali penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, seperti yang diamanatkan dalam ikrar Sumpah Pemuda: “Kami putra-putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.”

Melalui media massa yang mendidik dan lingkungan pendidikan yang mendukung, kita dapat membangun generasi muda yang tidak hanya cakap dalam berbahasa Indonesia, tetapi juga bangga menjadi bagian dari bangsa yang besar dengan warisan budaya yang luhur. Mari kita jaga bahasa Indonesia, demi masa depan bangsa yang lebih bermartabat.


Sabtu, 15 Maret 2025

 

Mata Kuliah              : Pembinaan dan Pengajaran Bahasa Indonesia

Dosen                          : Lisa Septia Dewi Br.Ginting S.Pd.,M.Pd.

Nama                          : Indah Syapriani

NIM                            : 221214028

Kelas                           : PBSI 6A

 

Bahasa Indonesia di Tengah Pengaruh Bahasa Asing dan Lokal




Apakah bahasa Indonesia masih relevan di era globalisasi, ataukah kita telah kehilangan identitas linguistik kita di tengah arus bahasa asing yang deras? Bahasa Indonesia, sebagai bahasa nasional, telah berkembang pesat sejak diproklamasikan pada tahun 1928. Namun, dalam era globalisasi ini, bahasa Indonesia menghadapi tantangan signifikan dari pengaruh bahasa asing dan lokal. Di Indonesia, bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa pemersatu yang menghubungkan berbagai suku, budaya, dan bahasa daerah. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, bahasa Indonesia mengalami pergeseran fungsi akibat pengaruh bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Pengaruh ini tidak hanya memperkaya kosakata dan struktur bahasa, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran tentang pelestarian identitas budaya dan bahasa nasional. Dalam esai ini, saya akan membahas pengaruh bahasa asing dan lokal terhadap bahasa Indonesia, serta implikasinya terhadap kebudayaan dan identitas nasional.

Pengaruh Bahasa Asing terhadap Bahasa Indonesia

Pengaruh bahasa asing terhadap bahasa Indonesia sangatlah signifikan terutama dalam konteks globalisasi, dapat dilihat dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Dalam dunia pendidikan, banyak istilah dan konsep yang diadopsi dari bahasa Inggris tanpa terjemahan yang tepat, ataupun bahasa asing lainnya seperti Arab, Belanda, dan lain-lain telah memengaruhi kosakata, ejaan, dan struktur kalimat bahasa Indonesia. Misalnya, istilah-istilah dari bahasa Inggris seperti "online", "feedback", dan "marketing" sering digunakan dalam konteks yang tidak diindahkan terjemahannya. Hal ini menciptakan kesenjangan antara generasi yang lebih tua yang lebih akrab dengan bahasa Indonesia yang baku dan generasi muda yang lebih terbiasa dengan istilah asing. Adapun kosakata bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa asing lainnya mencakup kata-kata seperti "meja" dari bahasa Belanda, dan "jumat" dari bahasa Arab. Penggunaan huruf-huruf seperti f, v, q, x, dan z juga merupakan hasil pengaruh bahasa asing, karena huruf-huruf tersebut tidak ada dalam bahasa Melayu yaitu cikal bakal bahasa Indonesia.

Selain itu, media massa dan budaya populer dari luar negeri juga memainkan peran besar dalam penyebaran pengaruh bahasa asing. Banyak anak muda Indonesia yang terpengaruh oleh budaya populer seperti film Hollywood dan musik barat, sehingga frasa dan slang bahasa asing sering digunakan dalam percakapan sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh bahasa asing tidak hanya terbatas pada kosakata, tetapi juga memengaruhi gaya komunikasi dan budaya masyarakat Indonesia. Di dunia bisnis dan teknologi, penggunaan bahasa Inggris menjadi semakin dominan. Banyak perusahaan yang mengadopsi istilah asing dalam branding dan pemasaran produk mereka. Fenomena ini tidak hanya mengubah cara orang berkomunikasi, tetapi juga memengaruhi cara berpikir dan berinteraksi dalam masyarakat. Akibatnya, bahasa Indonesia sering kali dianggap kurang "keren" atau tidak relevan dibandingkan dengan bahasa Inggris.

Pengaruh Bahasa Lokal terhadap Bahasa Indonesia

Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat majemuk yang memiliki kebudayaan masing-masing pada tiap daerahnya. Termasuk bahasa. Di Indonesia sendiri terdapat 652 bahasa daerah menurut Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Jumlah tersebut belum termasuk dialek dan subdialek yang digunakan masyarakat daerah. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai negara kedua dengan bahasa daerah terbanyak di dunia. Bahasa daerah hingga kini masih digunakan oleh masyarakat Indonesia untuk berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini baik dilakukan untuk melestarikan bahasa daerah yang ada di Indonesia, sehingga tetap terjaga dan menjaga penutur bahasanya. Tetapi, terkadang ini menjadi masalah apabila masyarakat yang terbiasa berkomunikasi menggunakan bahasa daerah untuk menggunakan bahasa Indonesia di dalam lingkup umum.

Bahasa daerah juga memiliki pengaruh signifikan terhadap perkembangan bahasa Indonesia. Sekitar 30% kosakata bahasa Indonesia berasal dari bahasa daerah, dengan kontribusi terbesar dari bahasa Jawa, Sunda, dan Minangkabau. Bahasa daerah tidak hanya memperkaya kosakata, tetapi juga mempengaruhi struktur kalimat dan idiom dalam bahasa Indonesia. Misalnya, penggunaan idiom dan ungkapan dari bahasa daerah telah menjadi bagian dari kosa kata nasional, mencerminkan kekayaan budaya dan keragaman linguistik Indonesia Dialek bahasa daerah juga mempengaruhi variasi bahasa Indonesia di berbagai wilayah. Contohnya, dialek Bugis mempengaruhi pelafalan, kosakata, dan struktur kalimat bahasa Indonesia di wilayah Biak, Papua. Namun, pengaruh ini tidak menghilangkan identitas lokal, melainkan memperkaya bentuk komunikasi dan memperkuat identitas budaya masyarakat setempat. Bisa kita simpulkan bahwa bahasa daerah memiliki beberapa peran, yaitu: (1) sebagai alat komunikasi antar-suku atau antar-etnis yang sama (2) sebagai ciri khas yang hanya dimiliki oleh suku tersebut, sekaligus sebagai pengenal atau identitas kebangsaan (3) bahasa daerah sebagai pelestarian kebudayaan daerah yang dimiliki Indonesia. Hal ini berarti sama dengan pelestarian kebudayaan Indonesia, dengan cara penggunaan bahasa daerah dalam berkomunikasi.

Implikasi terhadap Identitas Budaya dan Bahasa Nasional

Pengaruh bahasa asing dan lokal terhadap bahasa Indonesia memiliki implikasi yang kompleks terhadap identitas budaya dan bahasa nasional. Di satu sisi, pengaruh bahasa asing dapat memperluas akses ke pengetahuan global dan meningkatkan kesempatan karier, tetapi di sisi lain, hal ini juga dapat menimbulkan kekhawatiran tentang pelestarian budaya dan identitas nasional. Penggunaan bahasa asing yang berlebihan dapat membuat anak muda Indonesia kehilangan kedalaman dan pemahaman terhadap bahasa Indonesia, sehingga mengancam identitas budaya nasional. Pengaruh bahasa daerah, di sisi lain, memperkaya kosakata dan struktur bahasa Indonesia, serta mencerminkan kekayaan budaya dan keragaman linguistik Indonesia. Namun, perlu diingat bahwa bahasa Indonesia harus tetap menjadi bahasa pemersatu bangsa, sehingga perlu ada keseimbangan antara pengaruh bahasa daerah dan kebutuhan untuk mempertahankan identitas nasional.

Pergeseran ini membawa dampak yang signifikan terhadap identitas dan budaya bangsa. Bahasa bukan hanya sekadar alat komunikasi, tetapi juga merupakan cerminan budaya dan nilai-nilai suatu masyarakat. Ketika bahasa Indonesia mulai kehilangan fungsi dan maknanya akibat pengaruh bahasa asing, identitas budaya yang terkandung di dalamnya juga terancam. Generasi muda yang lebih akrab dengan bahasa asing mungkin kehilangan keterhubungan dengan warisan budaya dan bahasa nenek moyang mereka. Lebih jauh lagi, penggunaan bahasa asing yang berlebihan dapat menciptakan kesenjangan sosial. Mereka yang tidak menguasai bahasa asing, terutama di daerah terpencil, mungkin merasa terpinggirkan dalam percakapan yang semakin didominasi oleh istilah asing. Hal ini dapat mengakibatkan hilangnya rasa kebersamaan dan solidaritas di antara masyarakat.

Kesimpulan

Dalam perjalanan panjangnya, bahasa Indonesia telah menjadi sebuah kanvas yang indah, di mana warna-warna bahasa asing dan lokal saling melengkapi dan memperkaya. Namun, di balik keindahan ini, terdapat pertanyaan yang mendalam “Apakah kita masih mengenali diri kita sendiri dalam lukisan bahasa ini?” Bahasa Indonesia bukan hanya sekadar alat komunikasi, melainkan cerminan identitas dan budaya bangsa. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memanfaatkan pengaruh bahasa asing secara bijak, sambil mempertahankan keaslian dan kekayaan bahasa daerah. Dengan demikian, kita dapat memastikan bahwa bahasa Indonesia terus menjadi bahasa yang kuat, dinamis, dan mencerminkan keberagaman budaya Indonesia. Mari kita jadikan bahasa Indonesia sebagai simbol kebanggaan nasional, yang tidak hanya memperkaya kosakata kita, tetapi juga memperkuat jati diri kita sebagai bangsa. Hal ini dapat dilakukan dengan memperkuat pendidikan bahasa Indonesia, mempromosikan penggunaan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari, dan menghargai keragaman linguistik dan budaya Indonesia.

Refrensi

1.      I Wayan Pastika. (2012). Pengaruh Bahasa Asing terhadap Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah: Peluang atau Ancaman? Jurnal Kajian Bali, Volume 02, Nomor 02, Oktober 2012.

2.      Setiawan, B. (2021). "Bahasa Indonesia di Era Globalisasi: Tantangan dan Peluang". Jurnal Ilmu Bahasa, 15(3), 78-90.

3.      Supriadin, S. (2023). Pengaruh Penggunaan Bahasa Daerah Dalam Pergaulan Sehari-Hari Mahasiswa UNDIKMA Terhadap Keterampilan Berbahasa Indonesia. JISIP (Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan)7(3), 2755-2757.

File Format PDF

File Format Word

Kamis, 30 Mei 2024

Bahasa Bantu (Batak Angkola beserta Aksara Angkola)



Contoh Pantun-pantun dengan bahasa Batak Angkola beserta tulisan Aksara Batak Angkola



Dosen Pengampu : Lisa Septia Dewi br ginting.


1. Pantun Pertama

(Bahasa Indonesia)

Naik pesawat ke pakistan

Sampainya pasti cepat

Belajarlah dari kesalahan

Kelak kebahagiaan akan didapatt


(bahasa batak angkola)

manaek kapal tu pakistan

laluna ana cepat marsiajar

maho sian kesalahan

pasti sonnang maho i


(aksara angkola)


 ᯔᯊᯀᯩᯄ᯦᯲ ᯄ᯦ᯇᯞ᯲ ᯖᯮ ᯇᯄ᯦ᯪᯚ᯲ᯖᯊ᯲. 

ᯞᯞᯮᯊ ᯀᯊ ᯚ᯦ᯩᯇᯖ᯲ ᯔᯒ᯲ᯚᯪᯀᯐᯒ᯲. 

ᯔᯄᯬ ᯚᯪᯀᯊ᯲ ᯄ᯦ᯩᯚᯞᯄᯊ᯲.

 ᯇᯚ᯲ᯖᯪ ᯚᯬᯊ᯲ᯊᯰ ᯔᯄᯬ ᯀᯪ.


2. Pantun Kedua

(Bahasa Indonesia)

Pisang emas dibawa berlayar

Masak sebiji di atas peti

Hutang emas boleh dibayar

Hutang budi dibawa mati



(bahasa batak angkola)

pisang sere dioban berlayar

masak sabiji diginjang poti

hutang sere tolah dibayar

hutang tondi diceban mate


(aksara angkola) 

 ᯇᯪᯚᯰ ᯚᯩᯒᯩ ᯑᯪᯀᯬᯅᯊ᯲ ᯅᯩᯒ᯲ᯞᯛᯒ᯲.

 ᯔᯚᯄ᯦᯲ ᯚᯅᯪᯐᯪ ᯑᯪᯎᯪᯊ᯲ᯐᯰ ᯇᯬᯖᯪ. 

ᯄᯮᯖᯰ ᯚᯩᯒᯩ ᯖᯬᯞᯄ᯲ ᯑᯪᯅᯛᯒ᯲. 

ᯄᯮᯖᯰ ᯖᯬᯉ᯲ᯑᯪ ᯑᯪᯚ᯦ᯩᯅᯊ᯲ ᯔᯖᯩ.



3. Pantun Ketiga

(Bahasa Indonesia)

Ayahku seorang petani

Punya sawah punya ladang

Mari belajar hari ini

Agar masa depan lebih gemilang



(bahasa batak angkola)

ayahku halak per karejo

petani adong saba dohot

kobun ketama marsiajar sannari 

aso masa depan lobih turang


(aksara angkola) 

 ᯀᯛᯄ᯲ᯄ᯦ᯮ ᯄᯞᯄ᯦᯲ ᯇᯩᯒ᯲ ᯄ᯦ᯒᯩᯐᯬ. 

ᯇᯩᯖᯊᯪ ᯀᯑᯬᯰ ᯚᯅ ᯑᯬᯄᯬᯖ᯲. 

ᯄ᯦ᯬᯅᯮᯊ᯲ ᯄ᯦ᯩᯖᯔ ᯔᯒ᯲ᯚᯪᯀᯐᯒ᯲ ᯚᯊ᯲ᯊᯒᯪ.

 ᯀᯚᯬ ᯔᯚ ᯑᯩᯇᯊ᯲ ᯞᯬᯅᯪᯄ᯲ ᯖᯮᯒᯰ.


4. Pantun Keempat


(Bahasa Indonesia)

Cepat bergegas untuk bertemu

Bertemu sambil membawa gulali

Kaya harta miskin ilmu

Tentulah merugi sama sekali



(bahasa batak angkola)

copa ma aso siap siap

hita pasuo pasuo sambil maroban gulali

kayo harto miskin ilmu

pastima rugiho sattak


(aksara angkola) 

 ᯚ᯦ᯬᯇ ᯔ ᯀᯚᯬ ᯚᯪᯀᯇ᯲ ᯚᯪᯀᯇ᯲. 

ᯄᯪᯖ ᯇᯚᯮᯀᯬ ᯇᯚᯮᯀᯬ ᯚᯔ᯲ᯅᯪᯞ᯲ ᯔᯒᯬᯅᯊ᯲ ᯎᯮᯞᯞᯪ.

 ᯄ᯦ᯛᯬ ᯄᯒ᯲ᯖᯬ ᯔᯪᯚ᯲ᯄ᯦ᯪᯊ᯲ ᯀᯪᯞ᯲ᯔᯮ. 

ᯇᯚ᯲ᯖᯪᯔ ᯒᯮᯎᯪᯄᯬ ᯚᯖ᯲ᯖᯄ᯦᯲.


5. Pantun Kelima


(Bahasa Indonesia)

Beli dua dapat tiga

murah hati si penjualnya

Cita-cita utama kita surga

jangan tersilau harta dunia



(bahasa batak angkola)

manabusi dua dapat tolu

murah ate ate sipangadis

cita-cita dapajolona hita surga

ulang marsiloan harto dunia


(aksara angkola) 

 ᯔᯊᯅᯮᯚᯪ ᯑᯮᯀ ᯑᯇᯖ᯲ ᯖᯬᯞᯮ.

 ᯔᯮᯒᯄ᯲ ᯀᯖᯩ ᯀᯖᯩ ᯚᯪᯇᯝᯑᯪᯚ᯲. 

ᯚ᯦ᯪᯖ-ᯚ᯦ᯪᯖ ᯑᯇᯐᯬᯞᯬᯊ ᯄᯪᯖ ᯚᯮᯒ᯲ᯎ. 

ᯀᯮᯞᯰ ᯔᯒ᯲ᯚᯪᯞᯬᯀᯊ᯲ ᯄᯒ᯲ᯖᯬ ᯑᯮᯊᯪᯀ. 



Terimakasih  kepada semuanya yang sudah mengunjungi web blogger saya
Email: indahsyahfriani2510@gmail.com
Instagram: indahsprn_


Aksara Batak

Mata Kuliah                : Pembinaan dan Pengajaran Bahasa Indonesia Dosen                            : Lisa Septia Dewi Br.Ginting S.Pd.,...