Mata Kuliah : Pembinaan dan Pengajaran Bahasa Indonesia
Dosen : Lisa Septia Dewi Br.Ginting S.Pd.,M.Pd.
Nama : Indah Syapriani
NIM : 221214028
Kelas : PBSI 6A
PENGEMBANGAN BAHASA INDONESIA DI MEDIA MASSA
Apakah kita masih menganggap penting penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar di era media sosial yang serba cepat dan instan ini? Ketika kata-kata disingkat, simbol menggantikan huruf, dan norma berbahasa dilupakan, apakah kita sedang membangun identitas baru atau justru perlahan mengikis budaya kita sendiri?
Globalisasi yang berkembang pesat membawa dampak yang signifikan dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk dalam bidang kebahasaan. Bahasa Indonesia, sebagai bahasa persatuan sekaligus identitas bangsa, kini menghadapi tantangan besar di tengah arus modernisasi dan kemajuan teknologi. Media massa sebagai sarana komunikasi yang paling masif, memegang peran penting dalam mempengaruhi pola berbahasa masyarakat. Namun ironisnya, media massa kerap kali justru menjadi agen yang mempercepat pergeseran penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar menuju bahasa yang serampangan, seperti bahasa gaul dan bahasa alay. Bahasa alay yang saat ini banyak digunakan di kalangan masyarakat, khususnya generasi muda, muncul sebagai hasil dari kreativitas dalam berbahasa yang tidak lagi memedulikan kaidah-kaidah baku. Fenomena ini tampak jelas dalam penggunaan bahasa tulis di media sosial seperti Instagram, Twitter, hingga platform perpesanan seperti WhatsApp. Penggabungan huruf dan angka, penggunaan simbol-simbol yang menggantikan huruf, serta penyingkatan kata-kata di luar kaidah merupakan ciri khas dari bahasa alay tersebut. Fenomena ini menunjukkan adanya degradasi kesadaran masyarakat dalam menjaga kemurnian bahasa Indonesia yang seharusnya menjadi alat pemersatu dan identitas bangsa.
Penggunaan bahasa yang menyimpang dari aturan baku ini tidak hanya terjadi di ranah media sosial, tetapi juga mulai merambah media elektronik seperti televisi dan radio. Terutama dalam program hiburan dan siaran langsung, penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar kerap diabaikan. Tidak adanya proses penyuntingan langsung dalam siaran tersebut menyebabkan banyak pelanggaran kaidah bahasa yang akhirnya dikonsumsi oleh masyarakat tanpa filter kritis. Hal ini berbeda dengan media cetak seperti koran atau majalah yang masih menerapkan proses editing oleh redaktur bahasa, sehingga bahasa yang digunakan relatif lebih sesuai dengan kaidah yang berlaku. Media massa memiliki pengaruh yang sangat besar dalam membentuk kebiasaan berbahasa masyarakat. Ketika media massa, khususnya media sosial, dipenuhi oleh konten-konten yang menggunakan bahasa Indonesia secara tidak baku, maka lambat laun hal ini akan mempengaruhi cara berbahasa para penggunanya. Generasi muda, sebagai pengguna media sosial terbanyak, menjadi pihak yang paling terdampak. Mereka mulai menganggap bahwa menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar terkesan kuno, kaku, dan tidak relevan dengan kehidupan modern. Sebaliknya, penggunaan bahasa gaul atau bahasa alay dianggap lebih santai, akrab, dan kekinian.
Padahal, tanpa disadari, kebiasaan ini sangat merugikan bagi perkembangan bahasa Indonesia. Jika dibiarkan terus-menerus, maka dikhawatirkan bahasa Indonesia akan mengalami penurunan kualitas yang berujung pada pudarnya identitas kebahasaan bangsa. Lebih jauh lagi, kesalahpahaman dan miskomunikasi juga sangat rentan terjadi akibat penggunaan bahasa yang tidak sesuai kaidah. Misalnya, dalam dunia pendidikan dan pekerjaan, penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar menjadi syarat utama dalam penulisan dokumen resmi, penyusunan laporan, hingga komunikasi formal. Dalam konteks inilah, media massa seharusnya menjadi garda terdepan dalam menjaga dan mengembangkan bahasa Indonesia yang sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Media massa, baik cetak maupun elektronik, harus menjadi contoh dalam membiasakan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar kepada masyarakat luas. Sebagai contoh, media cetak seperti koran dan majalah yang tetap menggunakan bahasa baku secara konsisten terbukti dapat menanamkan kesadaran berbahasa yang lebih baik bagi pembacanya. Begitu pula dengan program-program di televisi dan radio yang menyajikan konten edukatif dengan bahasa Indonesia yang sesuai kaidah, secara tidak langsung akan membentuk sikap positif masyarakat terhadap bahasa Indonesia.
Selain media massa, dunia pendidikan juga memegang peran yang sangat penting dalam membina kebiasaan berbahasa Indonesia yang baik dan benar di kalangan pelajar dan mahasiswa. Pemerintah dan institusi pendidikan perlu menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan kebahasaan secara lebih intensif kepada generasi muda. Upaya ini dapat dilakukan melalui penguatan kurikulum yang menekankan pentingnya penguasaan bahasa Indonesia sesuai kaidah, serta pemberian contoh nyata dalam penggunaan bahasa yang baik dan benar dalam proses belajar-mengajar. Bahasa Indonesia bukan hanya alat komunikasi semata, tetapi juga lambang identitas dan pemersatu bangsa. Oleh karena itu, upaya menjaga dan mengembangkan bahasa Indonesia merupakan tanggung jawab bersama, baik pemerintah, media massa, institusi pendidikan, maupun seluruh lapisan masyarakat. Menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar bukanlah hal yang ketinggalan zaman, melainkan bentuk penghormatan terhadap budaya dan jati diri bangsa.
Jika fenomena penggunaan bahasa alay dan gaul terus dibiarkan tanpa ada pembinaan yang kuat, dikhawatirkan generasi masa depan akan semakin jauh dari pemahaman terhadap bahasa Indonesia yang baku dan sesuai aturan. Akibatnya, bukan hanya kemampuan berbahasa yang menurun, tetapi juga potensi lunturnya identitas nasional. Oleh sebab itu, mari jadikan media massa sebagai sarana yang efektif untuk membumikan kembali penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, seperti yang diamanatkan dalam ikrar Sumpah Pemuda: “Kami putra-putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.”
Melalui media massa yang mendidik dan lingkungan pendidikan yang mendukung, kita dapat membangun generasi muda yang tidak hanya cakap dalam berbahasa Indonesia, tetapi juga bangga menjadi bagian dari bangsa yang besar dengan warisan budaya yang luhur. Mari kita jaga bahasa Indonesia, demi masa depan bangsa yang lebih bermartabat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar